Alasan Sayang, Guru Sodomi Siswa MTs Selama 7 Bulan, Terbongkar dari Obrolan di WhatsApp

Seorang guru honorer Madrasah Tsnawiyah berinisial YH (31) di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, diamankan oleh polisi karena mencabuli dan menyodomi muridnya. Korban adalah seorang bocah laki-laki berusia 14 tahun yang duduk di kelas VII MTS. Pencabulan dilakukan sejak September 2019 lalu dan baru terbongkar pada April 2020.

Selama 7 bulan, YH mencabuli korban sebanyak 20 kali dimulai dengan menciumi korban sampai sodomi.

“Perbuatan itu terjadi sejak September 2019. Diperkirakan sebanyak 20 kali pelaku mencabuli korban. Dari mulai mencium hingga melakukan sodomi,” kata Kepala Urusan Humas Polres Cianjur Ipda Ade Novi Dwiharyanto, pada Senin (27/04/2020).

Pelecehan berawal saat korban menjadi murid baru disekolahnya. Saat itu YH mengaku sayang dan memiliki ketertarikan secara seksual kepada korban. YH pun melakukan pendekatan. Beberapa kali ia mengajak korban dan beberapa siswa lainnya untuk menginap di sekolah dengan alasan les tambahan hingga latihan pramuka.

Pria 31 tahun itu juga mengungkapkan perasaan cintanya kepada siswa laki-laki itu.

“Pelaku ini mengaku merasa nyaman, sehingga memberikan perhatian lebih kepada korban. Bahkan sempat mengatakan perasaannya,” kata Ade.

“Pelaku ini memperlakukan korban layaknya seorang kekasih dan pencabulan (sodomi) dilakukan apabila ada kesempatan bertemu,” kata Ade.

Perbuatan bejat YH terbongkar setelah kakak korban curiga dengan obrolan sang adik di WhatsApp. Sang kakak yang sempat memergoki chatting sang guru langsung bertanya pada adik laki-lakinya. Sang Adikpun menceritakan perlakuan yang dia terima selama ini dari gurunya.

“Saat ditanya oleh kakaknya, korban kemudian menceritakan perbuatan pelaku, hingga akhirnya dilaporkan ke polsek setempat dan pelaku berdasarkan laporkan tersebut langsung diamankan,” ujar Ade.

Polisi kemudian mendalami kasus tersebut karena kemungkinan ada korban lainnya. Guru MTs itu dijerat Undang-Undang Nomor 23 tahun 2020 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun penjara.

“Kasus ini masih terus didalami untuk mengungkap adanya kemungkinan korban lain,” kata Ade.

Sementara itu Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, akan memberikan bantuan dan pendampingan psikologis terhadap siswa korban sodomi.

Ketua Harian P2TP2A Cianjur Lidya Indayani Umar mengatakan, kasus ini perlu penanganan secara serius, karena menyangkut keberlangsungan psikologis anak yang jadi korban.

“Berdasarkan pengalaman-pengalaman dari kasus serupa yang pernah kami tangani, terjadi perubahan yang sangat mencolok pada psikologis anak (korban) pasca kejadian,” kata Lidya.

Ia mengatakan bahwa korban anak biasanya akan berubah menjadi pemarah dan emosinya yang tak terkendalikan. Untuk itu, ia berkoordinasi dengan pihak yang terkait agar dapat memberikan pendampingan kepada korban.

“Korban harus segera dikonseling secara berkelanjutan dan total, agar apa yang dialaminya tidak dilakukan kepada orang lain di kemudian hari,” kata dia.

 Ia juga menyayangkan kasus tersebut karena melibatkan seorang guru yang seharusnya memberikan rasa aman pada muridnya.

“Bukan malah sebaliknya, melakukan perbuatan jahat seperti ini kepada muridnya,” ucap Lidya.

Leave a Comment