Heboh! Praktik Kawin Tangkap di Sumba, Gadis Ini Menangis Histeris Saat Diculik untuk Dinikahi

beritaindonesiaterkini.net — Praktik kawin tangkap di Sumba, NTT masih sering terjadi bahkan di zaman edan ini. Kawin tangkap ini banyak mengancam keamanan wanita lajang di Sumba.

Seperti yang pernah dialami oleh seorang wanita yang bernama Citra (nama samaran). Di beberapa tahun lalu, dirinya menjadi korban kawin tangkap. Hampir saja dirinya dinikahkan paksa dengan pria yang tak ia kenal.

Dikutip dari Kompas.com, pada Kamis (09/07/2020), Citra menceritakan praktik kawin tangkap yang dialaminya saat tinggal di Kabupaten Sumba Tengah pada 2017. Dirinya mengaku ia ditangkap dan ditahan selama beberapa hari oleh pihak keluarga yang menginginkannya sebagai menantu.

Saat itu Citra yang bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat diminta menghadari sebuah pertemuan yang sebenarnya dirasa sangat janggal. Namun ia merasa bertanggungjawab dengan kerjaannya. Saat hendak untuk berpindah lokasi, Citra yang sedang menyalakan mesin motor tiba-tiba diculik oleh orang yang tak dikenal dan dimasukkan ke dalam mobil.

“Tapi, saat itu ada dua orang yang memegang saya di belakang (mobil). Saya tidak punya kekuatan,” tuturnya sambil mengingat kejadian itu melalui telepon, pada Senin (06/07/2020).

Citra lalu dibawa ke sebuah rumah yang sudah menyelenggarakan upacara adat. Ditempat itu ia dijaga oleh beberapa orang agar tidak kabur. Orang-orang di rumah tersebut juga mengadakan ritual untuk menyelenggarakan pernikahan.

“Sampai di rumah pelaku, sudah banyak orang, sudah pukul gong, pokoknya [menjalankan] ritual yang sering terjadi ketika orang Sumba bawa lari perempuan,” jelas Citra.

Heboh! Praktik Kawin Tangkap di Sumba, Gadis Ini Menangis Histeris Saat Diculik untuk Dinikahi
Heboh! Praktik Kawin Tangkap di Sumba, Gadis Ini Menangis Histeris Saat Diculik untuk Dinikahi

Di tempat itu, Citrus aja menangis. Akibat terus saja menangis, tenggorokannya pun kering. Ia tak mau makan dan minum di tempat tersebut karena takut terkena magis dan mau dinikahkan dengan pria asing yang tak dikenalnya.

“Terus saya tetap dibawa masuk ke rumah. Di situ saya protes, saya menangis, saya banting diri, kunci (motor) yang saya pegang saya tikam di perut saya sampai memar. Saya hantam kepala saya di tiang-tiang besar rumah, maksudnya supaya mereka kasihan dan mereka tahu saya tidak mau. Saya menangis sampai tenggorokan saya kering. Mereka berusaha memberi air, tapi saya tidak mau,” kata Citra.

Beruntungnya saat itu Citra berhasil dibawa pulang oleh keluarganya.

Para pejabat Pemerintah Daerah Pulau Sumba, Provinsi Nusa Tenggara Timur, telah menandatangi kesepakatan menolak adanya praktik kawin tangkap pada akhir Juni lalu. Bahkan, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Bintang Puspayoga datang ke Sumba untuk membahas praktik kawin tangkap itu.

Ia menyatakan bahwa sangat prihatin dengan maraknya praktik kawin tangkap. Bukan hanya itu saja, praktik kawin tangkap itu merupakan salah satu bentuk kekerasan terhadap perempuan dan dianggap merendahkan martabat perempuan.

Diharapkan pemerintah bisa memberikan sosialisasi kepada masyarakat Sumba terkait dengan larangan praktik kawin tangkap ini. Pemerintah juga diminta tegas dalam menindak praktik kawin tangkap agar tidak terus menerus terjadi.

Leave a Comment