Kakek Tukang Bersih Sekolah Cabuli 5 Anak PAUD Sampai Keluar Cairan Putih

Seorang tukang bersih sekolah mencabuli 5 anak sekolah Pendidikan Usia Dini (PAUD). Kelima anak itu masih balita.

Akibat dari perbuatannya itu, pelaku atas nama Kato Toshio yang berusia 57 tahun dituntut oleh Jaksa selama 7 tahun penjara.

Dia adalah orang jepang. Dirinya mengajukan pembelaan atas tuntutan hukuman yang diajukan oleh jaksa dari Kejari Denpasar, pada Selasa (21/04/2020). Dihadapan majelis hakim yang diketuai IGN Putra Atmaja, SH.MH, perbuatan terdakwa oleh Jaksa Penuntut.

Pencabulan itu dilakukan di sekolah. Kato dijerat Pasal 76 E Jo Pasal 82 ayat (4) UU RI No. 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Perpu nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan Undang-undang Perlindungan Anak.

Kato menjadi sukarelawan pembersih sekolah sejak bulan Februari 2018.

Selain tenaga bersih-bersih, kakek kelahiran di Jepang, 1 Januari 1962, itu juga menggantikan tukang masak untuk anak-anak PAUD apabila tukang masak khusus, libur atau tidak masuk kerja. Terdakwanya sendiri tinggal di salah satu kamar yang ada di PAUD Central.

Sekitar bulan Januari 2019 sampai April 2019, Kato melakukan aksi bejadnya itu. Aksi tersebut dilakuakan saat jam tidur siang dan anak-anak PAUD yang lain tidur siang. Saat itu lima anak korban masuk ke kamar kakek berdarah Jepang itu.

Saat itu juga terdakwa melakukan perbuatan aksi cabulnya terhadap para anak korban. Terdakwa menyuruh anak korban melepas baju mereka dan difoto. Kemudian terdakwa melepaskan celananya sendiri lalu mulai melakukan perbuatan tak senonoh ke anak-anak korban sampai mengeluarkan cairan putih dari kelamin anak-anak itu.

Anak-anak korban sendiri main ke kamar pelaku, karena sering diberi hadiah seperti boneka, buah, coklat, kue dan mainan. Bahkan, anak-anak korban tersebut menyebut jika ada keluar cairan warna putih yang dikatakannya “buang air besar”.

Selanjutnya, pada tanggal 17 Maret 2019, perbuatan terdakwa akhirnya diketahui oleh orangtua anak korban, karena anak korban menceritakannya. Selanjutnya pada tanggal 30 Maret 2019, ibu-ibu dan anak korban makan bersama di restoran.

Disanalah para anak korban ditanya oleh ibunya masing-masing dan akhirnya mereka menceritakan perbuatan pencabulan yang dilakukan kakek berdarah Jepang tersebut ke Polresta Denpasar.

Leave a Comment