Nasib Tragis dari Perlindungan Anak Ternyata Biadab

beritaindonesiaterkini.net  —  Nasib tragis yang dialami oleh seorang anak perempuan berinisial Nf (14), di Lampung Timur, Lampung. Pasalnya, saat dititipkan orangtuanya dirumah aman milik lembaga pemerintah Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Lampung Timur.

Anak perempuan ini malah menjadi korban pemerkosaan. Ironisnya, terduga pelaku tersebut adalah DA yang tak lain yakni Kepala UPT P2TP2A itu sendiri.

Ayah kandung korban, Sugiyanto (51) tak menyangka atas apa yang dialami oleh putrinya tersebut. Sebab alasan menitipkan anaknya dilembaga pemerintah itu awalnya karena ingin meminta perlindungan dan pendampingan.

Mengingat putri sulungnya itu sebelumnya menjadi korban pemerkosaan oleh orang yang tak bertanggung jawab.

“Jelas saya tidak terima. Anak saya bukannya dilindungi malah dipaksa melakukan perbuatan mesum,” ujar Sugiyanto dilansir dari TribunLampung, pada Sabtu (4/7/2020).

“Selama ini saya percaya karena dia pakai seragam kuning kunyit (PNS). Ngakunya perlindungan anak ternyata biadab,” sesal Sugiyanto.

Kasus pencabulan ini terungkap setelah korban yang berhasil kabur dari rumah dan menceritakan kepada pamannya pada Kamis (03/07/2020). Putrinya itu tak berani menceritakan kepada Sugiyanto karena takut dimarahi.

Selain itu juga, korban yang merasa sangat tertekan karena mendapatkan ancaman dari terduga pelaku.

“Anak saya diancam makanya gak berani ngomong sama saya. Saya tahu dari saudara, mereka yang minta saya berjanji jangan mukul, jangan marah setelah mengetahui itu,” jelasnya.

Setelah mengetahui kejadian yang menimpa putrinya itu, pihaknya langsung melaporkannya kepada polisi. Ia yang berharap bahwa kasus itu dapat diusut secara tuntas.

Nf juga mengatakan, selain dipaksa melayani nafsu bejatnya pelaku, ia juga sempat dijual DA kepada pria lain saat berada di rumah aman. Salah satunya kepada salah seorang pegawai rumah sakit di Sukadana yang dilakukan di sebuah hotel.

“Setelah digituin sama dia, saya dikasih uang Rp 700 ribu. Yang Rp 500 ribu buat saya, Rp 200 ribu lagi disuru kasih buat DA,” jelasnya. Saat itu dirinya hanya bisa pasrah. Sebab, DA mengancam akan menyakitinya jika tidak menuruti kemauannya itu. “Kalau gak nurut saya mau dicincang-cincang sama DA, saya takut jadi terpaksa ikutin kemauan nya,” kata Nf.

Sedangkan perbuatan bejat DA terhadap Nf ini terakhir dilakukannya pada 28 Juni 2020. Bagian advokasi Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung, Anugrah Prima mengatakan bahwa korban kekerasan seksual yang dilakukan terduga pelaku diindikasihkan lebih dari satu orang.

Hanya saja, dua korban lainnya masih enggan untuk membuat laporan karena diduga merasa sangat tertekan. Hal itu berdasarkan pengakuan dari korban selama dititipkan dirumah aman P2TP2A tersebut.

“Tidak menutup kemungkinan ada korban lain selain Nf, karena menurut Nf ada dua orang lagi korban kekerasan seksual yang dilakukan oleh DA,” ujarnya.

“Dua korban lagi belum berani buka suara, jadi baru satu korban yang kami dampingi untuk membuat laporan polisi,” tambahnya. 

Pihaknya tetap berharap kepada pihak kepolisian untuk dapat mengungkapkan kasus tersebut secara transparan. Pasalnya, perbuatan yang dilakukan oleh si pelaku ini selain biadap juga mencoreng institusi pemerintah.

“Jangan sampai kasus ini menguap begitu saja karena terlapor berstatus sebagai ASN di lembaga pemerintahan,” jelasnya.

Setelah melakukan visum di rumah sakit, keluarga, korban, dan pendamping hukum yang langsung melaporkannya kasus pemerkosaan itu ke Mapolda Lampung pada Jumat (03/07/2020) malam. Mereka hanya berharap ada keadilan di atas kasus tersebut.

Leave a Comment