Ngeri! Lagi Asyik Bermain, Bocah di Sulsel Dipenggal hingga Kepalanya Putus

beritaindonesiaterkini.net — Sebuah tragedi mengerikan baru saja terjadi pada Minggu (14/06/2020) sekitar pukul 09.00 WITA di Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Dua anak perempuan bernisial I dan S dipenggal menggunakan parang sampai kepala salah satu korban putus.

Menyadur laman Detik.com (15/06/2020), kejadian ini bermula ketika korban I dan S sedang bermain di depan rumahnya. Saat itu kedua korban bermain, AB (30) sambil menenteng parang mendekati kedua bocah malang itu.

I menjadi korban pertamanya yang ditebas dengan parang dibagian kepala. Akibat tebasan itu, bocah itu langsung meregang nyawanya. Usai kena tebasan, tubuhnya terjatuh dan masuk kedalam selokan.

Kemudian, S yang menyaksikan temannya ditebas itu juga ikut menjadi korban keberingasan AB. Lebih naasnya lagi, sekali tebas, S yang langsung tewas di tempat dengan kondisi kepala terputus dari badannya.

Ngeri! Lagi Asyik Bermain, Bocah di Sulsel Dipenggal hingga Kepalanya Putus
Ngeri! Lagi Asyik Bermain, Bocah di Sulsel Dipenggal hingga Kepalanya Putus

Selain kedua bocah itu, masih ada satu orang lain yang menjadi korban atas aksi pembacokan itu. Dia adalah Ramlan, seorang petani yang berusia 37 tahun yang kebetulan sedang melintas di dekat lokasi kejadian saat mengendarai sepeda motor.

Akibat dari serangan AB, Ramlan juga mengalami luka di bagian telinga dan kakinya. Kini, Ramlan telah mendapatkan perawatan di RS Hikmah Masamba.

Segera setelah kejadian itu berlangsung, polisi menerima laporan dari warga setempat langsung mendatangi lokasi kejadian dan mengamankan pelaku ke Mapolres Luwu Utara.

“Pelaku sudah diamankan. Kami sementara mendalami motif dari kasus ini,” ujar Kasat Reskrim Polres Luwu Utara AKP Syamsul Rijal, pada Minggu (14/06/2020).

Lebih lanjut terkait motif pelaku, Rijal yang mengatakan bahwa sementara ini baru ada dugaan bahwa sang pelaku mengalami gangguan jiwa. Dugaan itu muncul berdasarkan dari riwayat pelaku yang pernah dirawat di RSJ selama sebulan, sebelum akhirnya melanjutkan pendidikan dan bekerja.

“Diduga pelaku mengalami gangguan jiwa karena pada 2013 lalu dia (AB) pernah dirawat di RS Jiwa Dadi di Makassar satu bulan,” ungkap Rijal.

Menurut dari keterangan kepala desa setempat, keseharian pelaku selama ini baik-baik saja. Bahkan tak ada indikasi yang menunjukkan bahwa dia adanya kelainan jiwa. Meskipun demikian, proses penyelidikan ini masih terus berlanjut.

Jika secara kejiwaan pelaku terbukti sehat, maka dia akan menjalani proses hukum seperti biasa. Dia akan dijerat dengan pasal 354 KUHP dan UU Perlindungan Anak, dengan ancaman hukuman 15 tahun mendekam di penjara.

Leave a Comment