Pelaku Kekerasan Seksual terhadap Anak di Sulut Kebanyakan Orang Dekat

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Sulut mencatat, sebanyak 150 kasus kekerasan terhadap anak terjadi di tahun 2019.

“Dari 150 kasus ini, ada 28 kasus kekerasan seksual, mirisnya 10 kasus di antaranya pelaku adalah keluarga terdekat,” kata Kepala DP3A Sulut Mieke Pangkong saat rapat pembahasan LKPJ gubernur tahun 2019 di kantor DPRD Sulut, pada Rabu (22/04/2020).

Ia menjelaskan, bagaimana upaya terus dilakukan DP3A dalam upaya menekan dan mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak.

 “Seperti menggelar sosalisiasi dengan tujuan mendorong semua kalangan masyarakat agar terlibat melindungi anak-anak dari tindak kekerasan,” ujar Mieke.

Bukan hanya langkah antisipasi, pihaknya juga melakukan pendampingan terhadap korban, baik secara psikologi, pendamping kesehatan, pendampingan rohani.

Menurut dirinya, peran orangtua sangat penting untuk mencegah anak menjadi korban tindak asusila. Orangtua dituntut semakin meningkatkan fungsi pengawasan terhadap aktivitasa keseharian anak diluar rumah.

“Orangtua harus tahu anak bermain dengan siapa, dan lingkungan pergaulannya seperti apa. Jangan dilepas begitu saja, ada fungsi kontrol di sini,” kata Mieke.

Yang terpenting, ketahanan keluarga harus tetap dikokohkan, terutama dalam menciptakan situasi keluarga yang harmonis.

“Sehingga anak mau terbuka untuk bercerita tentang apa yang dialaminya di sekolah, dengan teman-teman sepermainannya, termasuk apa yang dilakukan orang lain terhadap dirinya,” ucapnya.

Sementara, anggota DPRD Sulut, Arthur Antonius Kotambunan mengatakan, DP3A memiliki kerja yang sangat penting sehingga harus di dukung dengan anggaran yang sangat memadai.

“Anggaran ke DP3A perlu ditambah,” kata Arthur yang juga anggota Pansus LKJP gubernur.

Leave a Comment