Ternyata Begini, Cara Membedakan Penumpang yang Mudik dengan Pulang Kampung

Maskapai Garuda Indonesia memiliki cara untuk membedakan penumpang yang mudik dengan pulang kampung pada masa larangan mudik saat ini.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Irfan Setiaputra dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) virtual dengan Komisi VI DPR di Jakarta, pada Rabu (29/04/2020) mengatakan cara tersebut dapat dilihat dari kepemilikan tiket kembali (return ticket).

“Kalau di penerbangan mudah mendefinisikan mudik atau pulang kampung. Pertama dari KTP asal daerah, kedua tidak punya tiket balik atau ‘return ticket’,” katanya.

Namun, dirinya mengeluh karena banyak calon penumpang yang tidak bisa terbang dan memutuskan untuk mengembalikan bea tiket (refund), terlebih setelah keluarnya Peraturan Menteri Nomor 25 Tahun 2020 tentang Pengendalian Transportasi selama mudik Idul Fitri 1441 Hijriah dalam rangka pencegahan penyebaran Covid-19.

“Kita masih menghadapi kondisi abnormal, banyak yang membatalkan karena tidak bisa pergi bukan karena tidak mau ditambah PM 25 mewajibkan kami me-‘refund’ tiket,” katanya.

Irfan mengatakan bahwa pihaknya akan tetap mengembalikan bea tiket dengan voucher meskipun itu untuk tiket promo.

“Kalau tiket pesawat kelas rendah, seperti promo, Anda tidak bisa ‘refund’, tidak bisa ‘reschedule’, tertulis begitu. Namun, karena kondisi ini, siapa pun kami ‘refund’, tetapi tidak ganti dengan cash, kami ganti voucher berlaku sampai Maret 2021,” katanya.

Dia berharap pada 3 Mei 2020, penerbangan domestik bisa dibuka kembali karena banyaknya penumpang yang terjebak (stranded) berada di zona merah dan yang masuk ke dalam Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB).

“Kalau dibuka lagi tanggal 3 Mei, siapa pun akan banyak persyaratan, termasuk maksud terbang dan kesehatan,” katanya.

Irfan mengatakan awalnya pihaknya akan memindahkan penerbangan dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang ke Bandara Kertajati, Majalengka tetapi akan menimbulkan masalah baru di sisi transportasi darat.

“Kami ada keinginan pindahkan ke Kertajati dari Cengkareng. Ini cuma mengalihkan saja persoalan tadinya di pesawat sekarang di darat karena dari Jakarta harus melalui akses tol di mana dalam PM 25 diawasi sangat ketat,” katanya.

Leave a Comment