Virus Corona Dapat Merusak Otak dan Sistem Saraf

Sebuah studi pada pasien dengan Covid-19 di Kota Wuhan , China telah menemukan bahwa Virus Corona merusak otak dan sistem saraf setengah dari pasien yang sakit parah.

Dampak yang muncul itu pada sepertiga pasien secara keseluruhan akan menyebabkan gejala termasuk sakit kepala, tersandung, bicara tidak jelas, nyeri saraf dan kejang.

Studi ini pertama kali mengkarakterisasi masalah otak yang terkait dengan infeksi Virus Corona menunjukkan bahwa gejala-gejala ini dapat menunjukkan pasien dengan resiko yang lebih tinggi.

Dalam studi ini, ahli saraf Bo Hu dari Universitas Sains dan Teknologi Huazhong dan rekannya menganalisis 214 pasien COVID-19 dari Kota Wuhan, China, kota tempat wabah pertama kali muncul.

Semua pasien yang dirawat di salah satu dari tiga pusat perawatan khusus di Rumah Sakit Union universitas tersebut.

Para ahli yang memilah gejala neurologis ke dalam satu dari tiga kategori, yang pertama adalah manifestasi sistem saraf pusat – termasuk pusing, sakit kepala, gangguan kesadaran, ataksia, dan kejang.

“Secara keseluruhan, 78 pasien (36,4 persen) memiliki manifestasi neurologis,” tulis para peneliti dalam makalah mereka.

“Dibandingkan dengan pasien dengan infeksi non-parah, pasien dengan infeksi parah adalah lebih tua, memiliki lebih banyak gangguan mendasar, terutama hipertensi, dan menunjukkan lebih sedikit gejala khas COVID-19, seperti demam dan batuk,” tambah mereka.

“Pasien dengan infeksi yang lebih parah memiliki manifestasi neurologis, seperti penyakit serebrovaskular akut, penurunan kesadaran dan cedera otot rangka.”

“Selama periode epidemi COVID-19, ketika melihat pasien dengan manifestasi neurologis, dokter harus mencurigai infeksi sindroma pernapasan akut virus corona 2 sebagai diagnosis banding,” kata para peneliti.

Ini, mereka menambahkan akan menghindari diagnosis yang tertunda atau kesalahan diagnosis dan kehilangan kesempatan untuk merawat pasien dan mencegah penularan yang lebih lanjut.

Temuan ini ditanggapi oleh ahli virologi.

“Pengamatan komplikasi neurologis pada subset pasien COVID-19 yang positif patut dicatat, tetapi tidak boleh mengalihkan perhatian dari fokus pada patologi utama gangguan pernapasan,” komentar ahli virologi Ian Jones dari University of Reading.

“Hampir setengah dari pasien yang dijelaskan di sini memiliki masalah kesehatan yang mendasarinya dan tidak ada data langsung yang diberikan tentang keberadaan virus di situs neurologis,” tambahnya.

Viraemia, yakni keberadaan virus dalam aliran darah, darimana asalnya ia dapat mengakses jaringan saraf, dideskripsikan untuk SARS, tetapi tidak pada semua pasien dan hanya sementara. Itu terjadi, tetapi umumnya bukan apa yang dilakukan Virus Corona.

“Saat ini komplikasi neurologis lebih baik dianggap sebagai konsekuensi dari keparahan penyakit COVID-19 daripada masalah baru yang berbeda,” ujar Jones.

Leave a Comment